Design a site like this with WordPress.com
Get started

PeBePe (Pokoke Banter Poll)

Sudah lama rasanya tidak naik bus untuk jaak yang jauh semenjak PPKM dengan berbagai level ini. Kerinduan naik bus ini akhirnya terbayar juga saat ada keperluan urgent yang mengharuskan aku menuju ibukota.

Banyak pilihan yang ditawarkan untuk jalur Kutoarjo Jakarta seperti Sumber Alam, Rosalia Indah, Sinar Jaya, Murni Jaya, Agra Mas, Tividi, Maju Lancar, Sumber Jaya, dll. Karena mendadak, kuputuskan dengan cara paling simple saja, yaitu dengan menghubungi Agen palng handal di Kutoarjo, yaitu Agen pak Gito. Agen ini melayani pemberangakat bus ke Berbagai Jurusan Seperti Jabodetabek, Malang, Denpasar, Maupun Sumatera. Berbagai bus dilayani oleh agen ini, tinggal pilih

Terpilihlah PO Pebepe yang sedang naik daun, salah satu alasannya yaitu karena belum pernah naik Po ini, dan penasaran juga kenapa Po ini langsung bisa dapat penumpang yang relatif bagus di jalur yang terhitung panas ini. PO bus ini fokus melayani penumpang dari Purworejo ke barat, arena bus ini memang start dari Kabupaten Purworejo, Tepatnya Loano dan Pendowo. CMIIW.

Jam tiga sore aku sudah stand by di Agen pak Gito, sesuai jadwal harusnya bus berangkat jam setengah 4 sore dari kutoarjo. Hari itu bus agak terlambat, lumayan bisa buat makan bakso malang langgaan sama gorengan mamak es yang setia di samping agen pak Gito (tapi kalo minggu libur, kayak PNS).

Pukul empat sore Bus Tujuan Pasar Kemis (Den Panda) kalo ga salah masuk agen Pak Gito, tak lama setelahnya bus yang akan kuanaiki masuk. Bus dengan body Jetbus Generasi pertama dengan sasis 1526 tapi sudah dilengkapi air suspensi sehingga menambah kenyamanan. Walaupun sudah cukup berumur, bus masih terlihat terawat dan bersih. Segera aku masuk bus dan menempati seat 2C, tanpa dipesan Agen Pak Gito sudah hafal seleraku, yaitu duduk di dekat aisle karena kaki yang extra.

Kesan saat masu bus yaitu rapi dan bersih, kebetulan seat no 2C legroomnya lega untuk ukuran tinggi badan 180n. Walaupun beberapa seat terlihat legroomnya agak sempit. Sepertinya penataannya tidak terlalu rata, tapi untuk ukuran normal tidak terlalu sempit. Karena bus terisi penumpang tidak terlalu banyak, aku memilih pindah ke belakang, baris kedua dari belakang untuk istirahat.

Bus berjalan termasuk cepat dan membelah jalur sempit Purworejo-Kebumen yang cukup padat di sore hari. Menaikkan beberapa penumpang di beberapa agen hinnga penumpang terisi setengah lebih, tapi bangku bagian belakang masih aman, masih bisa menguaai dua bangku sekaligus. Seat buatan rimba kencana ini lumayan juga untuk istirahat sore itu.

Tak seperti bus lain yang istirahat di daerah antara kebumen-sampang, tempat istirahat bus ini masih jauh yaitu di daerah pejagan. untung saja tadi sudah isi perut dahulu kalo nggak, asam lambung bisa ngajak berantem lagi nih. Salah satu hal yang aku bingung, sebelum sampai di Rumah Makan, bus ini sempat beberapa kali berhenti di SPBU tapi kaya nggak jadi isi solara, kalo nggak salah sekitar tiga kali, sebelum terakhir di SPBU sebelah rumah makan.

Bus berhenti di rumah makan Kita Pejagan, untuk menu biasa lah. Uniknya di sini, penumpang di turunkan di dekat rumah makan, penumpang wajib turun. Bus dikosongkan lalu pindah ke tempat parkir yang agak jauh lokasinya. Bus dari berbagai jurusan diparkir berjejer, jadi terlihat mencolok di tempat itu.

Setengah sebelas malam, bus angkat jagkar dari Rumah Makan Kita. Rumah makan tepat di dekat pintu toll pejagan. Masuk toll Pejagan, bus langsung tancap gass. OM 906LA langsung digeber maksimal, dengungan mesing begitu kerasa, terasa driver memainkan RPM tinggi. Bus terasa mosak-masik. Aku nggak terlalu memperhatikan tapi kecepatannya terasa. Selepas itu lebih banyak kumanfaatkan untuk tidur, bangun lagi udah masuk cikarang, menyusuri jalan protokol kalo nggak salah.

Memasuki Toll Jor aku maju ke depan untuk persiapan turun pasar rebo, aku sempet bilang ke cre kalo mau ke ragunan. eh malah ditawarin dianterin sekalian. Yaudah rejeki anak soleh memang. Di pasar rebo bis keluar toll karena ada titipan paket, karena orangnya belum datang dan sudah ada patroli, bus langsung masuk toll lagi dan janjian di tanjung barat. dan menunggu beberapa saat. Bus tidak masuk toll, dan akhirnya 02.20 mendarat di Ragunan.

Bandung Farewall Trip

Seminggu menjelang cabut dari kantor, load pekerjaan masih saja belum berkurang, malah semakin menjadi. Matahari sudah terbenam, Aku, Om Nunu, Yudhi, dan Mas Anjar masih di kator seperti biasanya. Tiba-tiba Om Nunu mengajakku untuk ikut beliau ke Bandung. Aku berpikir panjang, lalu kuiyakan ajakan beliau.

Sabtu pagi setelah subuh
Aku sudah stand by di terminal Depok lama (Dekat ITC Depok) setelah Subuh. Kucari tempat pemberangkatan bus MGI tujuan bandung. Tenyata sekarang bus tidak parkir di sisni. Bus diberangkatkan dari terminal Jatijajar. Ada seorang mandor yang akan memandu para penumpang lalu kita semua menunggu di halte depan. Sesuai jadwal, bus harusnya berangkat pukul 06.00. WIB, tapi tenyata bus beragkat 06.00 merupakan jam keberangkatan dari Terminal Jatijajar. Om Nunu akhirnya datang juga. Kami menunggu bus masuk ke Terminal Depok.

Sekitar pukul enam lebih bus sudah measuki terminal Depok. Penumpang bergegas masuk ke dalam bus. Bangku paling depan berhasil kami amankan. Bus dengan balutan body Rahayu sentosa dengan dapur pacu J08E-UF ini berjalan santai menyusuri Lenteng agung sampai Tanjung Barat, lalu menyusuri Toll Jorr.

Sabtu pagi JORR merlihat ramai lancar, memasuki Jakpek mulai padat merayap. Sampai akhirnya kami mendaat di Leuwi Panjang sekitar pukul 11 siang. lumayan memakan waktu sih.

Tujuan pertama kami yaitu makan Batagor. Om Nunu langsung menajakkku naik angkot entah apa lupa, kalo ga salah warnannya hijau. Kampi menuju ke Batagor Yunus yang cukup terkenal di Bandung. Memang boleh juga sih batagorya, beda dengan yang biasa ada di Jawa. Setelah itu kami solat di masjid tepat belakang Batagor.

Setelah perut kenyang, kami melanjutkan ke tujuan utama yaitu Soreang. Naik angkot dua kali lalu disambung ojek. Jauh lah pokoknya. tujuan utama ke bandung sebenernya memang untuk menegcek rumah yang dibeli Om Nunu beberapa tahun yang lalu dan sedang di renov. Kai mampir di kakak Om Nunu yang berada di dekat situ.

Hanya beberapa jam saja kami di soreang, setelah dirasa cukup kami balik lagi ke bandung kota, kali ini naik taksi online yang lebih simpel. Om Nunu belum puas mengajakku untuk kuliner di bandung, target selanjutnya adalah Ayam Suniaraja. Memang benar saja walaupun kaki lima pengunjungnya langsung ramai sesaat setelah buka, kami salah satu pengunjung yang awal. Rasa memang mantap, apalagi sambelnya. Tidak mengecewakan.

Masih belum puas juga Om Nunu masih mengajakku untuk partai terakhir,yaitu Roti Bakar Gang Kote yang Legendaris itu. Baru tau aku kalo ada roti bakar yang bener-bener dibakar. Biasanya kan roti bakar digoreng pake margarin, kalo ini bener-bener dibakar. roti yang dipake juga bikin sendiri ga kaya roti bakar pada umumnya yang relatif seragam. Antrinya, ampunnn….. Rame banget tempat ini.

Tentu kami bungkus saja karena memang ga ada yang dine in. Kalo dine in ya makan sendiri di bangku-bangku yang ada di trotoar. Yang khas adalah rasa bumbu yang merupakan isian khas yang ereka bikin sendiri. yang jadi signature mereka. Pesta makanan berakhir. Kami berpisah. Om Nunu balik lagi ke Depok dengan nai bus, aku ke Purwakarta naik Travel Tujuan Sadang.

Swedish Power “Scania K380ib Shantika Scorpion King”

Libur Nataru 2010

Sebagai bocah baru yang belum genap setahun tinggal di kawasan Jabodetabek. Aku masih terkagum-kagum dengan berbagai macam bus dari berbagai wilayah. Terutama dengan bus-bus Muriaan.

Menjelang pergantian tahun, terdengar ada varian sasis baru dari produsen bis asa Swedia dengan logo Griffin, SCANIA. Scania meluncurkan sasis premium mereka dengan kode K380ib. Sasis yang dibekali mesin DC11 dengan silinder 12.000cc yang mampu menyeburkan tenaga sebesar 380HP. Tentu sangatlah besar pada saat itu, sebelum masuknya sasis Mercy 2542, Scania K410ib, serta MAN R37.

Shantika 380ib

Source : https://pembuatanpemasangan03.files.wordpress.com/2016/12/bus-shantika-pariwisata-terbaru-2016-2.jpg?w=1400&h=
Harapan Jaya Blitar - Jakarta | Scania K380iB | Tentrem Scorpion King
Harapan Jaya K380ib

Source : https://www.flickr.com/photos/potograperperbusandjakarta/36376054196

Saat itu ada dua PO di Pulau Jawa yang memesan chasis tersebut, yaitu Harapan Jaya dari Tulungagung serta Shantika dari entah Semarang atau Jepara. Kedua PO tersebut menggunakan body yang juga varian baru dari karoseri Tentrem yang dinamai Scorpion King. Body yang diadaptasi dari Scania touring ini seakan sangat pas dengan sasis premium tersebut.

22 Desember

Aku berangkat dari Terminal Baranangsiang menuju terminal Lebak Bulus (sekarang sudah jadi depo MRT) menggunakan bus Agra Mas dengan tarif kala itu 11k (cmiiw). Waktu tempuh sekitar satu jam.

Sampai di Terminal Lebak Bulus sekitar pukul empat sore, aku langsung saja menuju loket Sahantika. Beruntung masih ada sisa satu seat di belakang, sikat saja pikirku, daripada udah jauh-jauh ke sini nggak jadi. Dengan mahar sebesar 150k, tiket kini sudah berada di tanganku. Pada umumnya tiket bus muriaan pada waktu itu di kisaran 120k. Wajar menurutku untuk peak season, apalagi sasis premium biasanya ada charge lagi.

Tak lama berselang si k380 masuk ke parkiran terminal bersanding dengan bus-bus muriaan yang begitu gagah denagan body kebanyakan menggunakan New Marcopolo HD buatan Adi Putro. Shantika ini terlihat sangat gagah dengan bautan Scorpion King dari tentrem tanpa menggunakan punuk, tidak seperti saudaranya di Harapan Jaya yang menggunakan punuk. Yang ku sukai dari bus ini adalah pintu tengahnya yang tidak menggunakan karet luar pada sisi sampingnya sehingga pintu terlihat melebur dengan body.

Tepat pukul lima sore si bongsor K380 meninggalkan Terminal Lebak Bulus lansung masuk toll Lingkar Luar. Begitu masuk toll driver langsung menginjak pedal gas seolah ingin menunjukkan betapa garangnya bus ini. Terasa tarikan yang begitu bertenaga dari mesin DC11 saat bus sedang berakselerasi. Tentu saja pertunjukan itu tidak bisa berlangsung lama karena jalan mulai terlihat padat. Tenaga besar seakan mulai tak bertaji saat menghadapi kemacetan. Saat mulai agak lenggang selepas Cikarang bus ini mulai menunjukkan keganasannya lagi.

Sekitar pukul sembilan malam bus sudah smpai di tempat istirahat PO Shantika yaitu Rumah Makan Barokah Indah Indramayu. Agak disayangkan menurutku service makan saat itu, tidak sebanding dengan kelas pelayanan bus tersebut. Tapi kurasa sudah dipertimbangkan dengan matang oleh manajeman. Akunya aja yang ngelunjak kali. hehe

Bus melanjutkan kembali perjalanan menyusuri pantura yang kini sudah jarang sekali bus malam melaluinya. Aku tak lagi mengingat apa saja yang sudah diasapi karena jalan relatif lenggang walaupun tetap ada beberapa spot kemacetan. Namun ritual blong kanan khas pantura lama selau bisa menjadi solusi. Sempat kena macet di daerah Tegal dan Subah sejauh yang ku ingat. Dan Macet subah inilah yang lumayan panjang.

Finish depan Terminal Terboyo pukul 7 pagi. Lumayang juga bayar mahal bisa besama Shanti 14 jam. Anyway kalo ga salah waktu itu adalah pertama kalinya aku menggunakan bus dengan fasilitas legrest di seatnya, apalagi sasis yang relatif panjang hanya di isi 30 seat begitu memanjakan kakiku yang overlength.

Overall perjalanan menggunakan Shantika Scania K380ib yang saat itu berjalan sebagai bus 20 sangat menyenangkan bagiku, terlepas dari macet dan service makan yang kurang proper menurutku. Oiya, untuk tiket ternyata berbeda, sebelahku mendapatkan tiket dengan harga 140k. Masih batas wajar menurutku.

MILA Sejahtera PATAS Jogja-Jember (Tapi Solo-Surabaya). Si Naga Emas

Niat hati sudah lama untuk mejajal Rute Baru Patas MILA sejahtera Jember-Yogyakarta. Beberapa kali bus tidak diberangkatkan sehinggga rencana tak kunjung tereksekusi. Beruntung pada tanggal 4 Mei 2021 aku berkesempatan untuk mencicipi bus tersebut. Dari kutoarjo Naik Prameks keberangkatan 8.30 sampai Stasiun Tugu Yogyakrta. Dilanjukan dengan KRL Commuter Line relasi YK-SLO. Pukul 11.10 kereta sampai di Stasiun Solo Balapan, aku bergegas keluar stasiun. Di pintu keluar Adil sudah menunggu untuk kita ke Tirto.

“Bise wes mlebu ket jam setengah 11”

“Waduh… Ojo-ojo wes mangkat dil”

Adil memacu mtor menuju Terminal Tirtonani yang sebenarnya hanya berjarak 1-2 km, kami sudah pasrah kalaupun sampai harus ketinggalan. Sesuai Jadwal bus berangkat jam setengah 12 siang, namun karena mungkin sudah ngetem terlau lama bisa saja bus sudah lepas jangkar terlebih dahulu. Adil langsung menuju parkiran motor, aku menuju jalur pemberangkatan.

Alhamdulillah, bus belum berangkat.

Kami menuju bus, dan ternyata masih ngetem sejenak. Tanya kondektur bus masuk Madiun nggak?, ternyata masuk. Oke ,jadilah adil ikut naik bus ini juga. Aku Surabaya, adil sampai Madiun.

Tepat pukul 11.30 bus ini meninggalkan parkir timur Terminal Tirtonadi. Lampu merah lurus terus, berbeda dengan bus patas jawa timuran pada umumnya. Bus ini langsung Menuju Pintu toll Gondangrejo. Bener-bener full toll ini.

Bus dipacu dengan perlahan, tidak terlihat akselerasi yang berlebihan. Suspensi udara made in china ini berhasil meredam goncangan beton toll trans jawa. Raungan mesin entah yuchai atau weichai yang menggelegar seolah menunjukkan tenaga besarnya. Bus seperti melaju perlahan, tapi ternyata lumayan kencang juga. Terlihat saat menyalip EKA yang kena limit 90kpj dengan mudahnya sebelum exit toll Madiun.

Solo-Madiun ditempuh dalam waktu sekitar satu setengah jam. Bus ngetem beberapa saat di Madiun, ada serombongan penumpang tujuan Jember yang naik dari sisni. Lumayan untuk tambahan, karena memang saat itu sedang sepi. Apalagi saat itu dua hari sebelum penyekatan mudik lebaran. Bus ini akan berhenti di garasi. Tidak ada pemberangkatan dari arah barat untuk tanggal 5.

Bus melanjutkan perjalanan lagi setelah ngetem sekitar 40 menit. Adil turun di sini, saatnya aku melanjutkan perjalanan sendiri. Sepanjang Madiun-Surabaya hanya menikmati pemandangan toll yang relatif monoton, dan tidur juga tentunya.

Pukul tiga sore bus sudah masuk di terminal Bungurasih Sidoarjo Surabaya. Oiya, untuk tarif Solo- Madiun 50k, sedangkan Solo-Surabaya 90k non service makan. Sangat affordable menurutku sih, apalagi dengan waktu tempuh yang singkat hanya sekitar 3,5 jam. Walaupun bukan bus baru, interior juga masih bagus, ada colokan listrik untuk charge gadget, serta seat alldila yang nyaman.

Rare Item, Kalisari Mercy OH1725

Hari ini jadwalku pulang dari Surabaya. Pukul 09.00 aku sudah menapakkan kaki di Stasiun Waru. Cukup beberapa menit saja untuk sampai ke terminal Bungurasih, lewat pintu belakang tentunya.

Sampai di jalur pemberangkatan, teringatlah bisikan kompor Solo tentang spesies langka dengan jam pemberangkatan sekitar pukul 9.

Langsung saja aku mengintip ke jalur pemberangkatan Patas Tujuan Malang. Beruntung sekali rasanya liat unit langka milik PO Kalisari masih terparkir. Tak kusiakan kesempatan untuk mencicipi unit ini. Urusan pulang nanti gampang.

Pertama naik ke armada ini langsung saja tergeran dengan stir yang udah ala-ala mercy sekarang, yaitu dengan palang empatnya, walaupun spedo masih seperti mercy 1525 yang analog. Bus dengan body Jetbus generasi pertama yang masih menggunakan pilar b ini masih terlihat terawat untuk ukuran body dengan umur kisaran satu dekade.

Langsung saja aku menuju seat belakang, tepat depan pintu belakan. Seat depan sepertinya sudah di isi para busmania atau konten kreator. Utuk space kaki standard patas jarak dekat, sedikit mentok untuk ukuran kaki dengan tinggi badan 180an.

Bus berangkat tepat pukul 09.10 dari terminal bungurasih, sesaat setelah naik. Jalan perlahan menuju pintu keluar sambil nyeser penumpang, setelah itu langung masuk toll waru. Bus berjalan santai menyusuri toll Surabaya-Sidoarjo ini. Suara raungan mesin terdengar lumayan kencang di seat belakang, mungkin faktor umur sehingga peredaman sudah mulai berkurang. Walaupun tidak terlalu kencang menurutku, tapi satu jam perjalanan sudah sampai di Exit Karanglo. Benar-benar full toll. Tarif untuk bus ini yaitu 35k dengan keseluruhan waktu tempuh sekitar 1,5 Jam Bungurasih-Arjosari.

Overall perjalanan menggunakan bus boleh juga untuk dicoba. Tarif 35k suseai untuk mengkompensasi waktu tempuh yang biasanya bisa dua kali lipatnya kalo tidak lewat toll. Built up air suspension membuat perjalanan terasa lebih nyaman dan tidak berisik. Degan tenaga sebesar 250hp dan umur yang sudah mulai menginjakkan 16 tahun sepertinya sudah mulai berkurang. Yang celas mercy langka ini recommended untuk dicoba, dengan modal cukup 35k. mumpung belum punah.

Cerita malam itu

Sore hari selepas magrib, di sebuah warung tenda, pinggiran Jakarta

Dua orang sahabat lama bertemu kembali, sambil megunyah ayam bakar yang dilapisi madu, mereka bercengkerma. Seperti biasa, hal-hal sepele sampai kadang meneteskan air mata.

Haha hihi gurauan setelah lama tak berjumpa sampai masuk ke topik yang agak serius.

“Jadi kamu mau ngapain habis ini?”
“Gatau, aku mau nyenengin orang tua dulu”
“Emang kamu tau, orang tuamu gimana senengnya”
“Iya juga ya……. Ya gatau juga sih. Waktu itu aku kan beliin mobil buat mamahku, beliau kan udah pensiun. Pikirku kan biar enak beliau bisa kemana-mana enak tuh naik mobil ga repot. Eh, habis itu beliau malah kerja lagi buat bantu nyicil sama biayain tuh mobil. Kan jadi bingung malah akunya”
“Ya… kadang emang gitu, kita mau nyenengin orang tapi malah ga tau apa yang sebenernya ngebuat orang itu seneng. Tapi aku yakin sih mamahmu tetep seneng ya walaupun gitu jadinya. Pasti dia ga tega kalo anaknya malah susah payah kerja buat dia, padahal kita kan seneng aja.”
“Hmmmm……..” sambil menarik napas panjang
“Kadang kita niatnya mau nyenengin orang yang kita sayangi, eh taunya itu malah nyusahin mereka”
“Aku juga bingung sama orangtuaku, mereka malah nggak pernah minta apa-apa. Aku mikir apa sebenernya ekspektasi mereka sama aku”
“Kadang aku ngerasa tau apa yang mereka pengen, keliatanya emang gampang. Tapi itu nggak mungkin banget menurutku buat saat ini”
“Ya begitulah hidup, seringkali kita berpikir kalo biar aja kita yang susah,yang penting orang yang kita cintai bahagia. Karena bahaginya bakal nutupin sakit yang kita rasa pastinya”
“Di satu sisi, orang yang kita cintai pasti ga akan pernah bahagia kalo sampai tau kitanya susah demi dia”
“Ya begitulah….. klasik emang”
“Sebenernya…. kita juga fine aja sih, nggak yang sussah juga. Kita rela kalopun harusnya menderita. Karena susahnya kita ga akan pernah sebanding sama bahagia mereka”
“Tapiya itu, isnce mereka tau kita menderita sina juga bahagia mereka. Dan gitu aja kayak lingkaran setan jadinya”
“At the end, sepertinya kita harus bahagia dulu sebelum kita ngomong mau ngebahagiain orang lain. Toh orang-orang yang cinta sama kita juga pasti bahagia kalo liat kita bahagia. Ya, walaupun kadang challanging sih buat komunikasiin.”
“Pokoknya kita harus bahagia buat orang orang yang cinta sama kita, bodo amat yang engga”
“Yapss…. betul. Karena hidup kita kan emang kita dedikasiin buat orang yang kita cintai. Orang tua, pasangan, dan anak. Kita harus bener bener bahagia, nggak cuma pura-pura seperti selama ini”


Seketika hening, mereka saling menatap.
Mata keduanya berkaca


Kendaraan yang lalu lalang masih saja ramai
Gerimis yang turun sedikit mendinginkan panasnya ibukota.


Digubah dari kumpulan cerita barbagai kawan

Ngobrol ngalor ngidul sama Hernanda

Summary

Cerita tentang kisah hidup, dijamin bakal netesin air mata. Dengerin sampai akhir

This episode is sponsored by

· Anchor: The easiest way to make a podcast. https://anchor.fm/app

Kutoarjo Semarang via Solo

Tengah malam setelah balik dari Kota Pelajar, aku langsung bergegas untuk mandi dan balik lagi untuk melakukan perjalanan menuju Kota Atlas. Plan A yaitu naik budiman bumel jurusan Tasik – Semarang.

Pukul 00.15 aku sudah berada di Minimarket depan garasi Bus Sumber Alam Kutoarjo. Beberapa saat menunggu, bapak-bapak ojek menghampiriku dan menanyakan tujuanku. Kujawablah bahwa aku mau ke Semarang menggunakan Budiman. Bapak itu memeberi tahu kalau bus yang kumaksud sudah lewat beberapa waktu yang lalu, bahkan sempat ngetem sebentar untuk mencari penumpang. Gawat pikirku, target jam 6 sampai Sukun gak kekejar nih. Padahal sesuai informasi, perkiraan bus lewat Kutoarjo sekitar jam 00.30-01.00.

Lagsung ke plan B
Tak lama berselang Sugeng Rahayu dari arah Bandung lewat. Tak pikir lama, langsung saja kuhentikan bus lalu naik. Tanya kondektur ternyata bus nggak ngetem di Jogja, jadi langsung turun solo aja. Udah nggak ngerasain, tidur sepanjang jalan. Sempet ngelilir di Giwangan, dan baru terbangun di Kartosuro. Galau mau turun di sini tapi takut bus ke Semarang ga mau berhenti. Ikutlah aku ke Tirtonadi. Bus ngepom di Pabelan lumayan lama, kampret banget pikirku. Sampai Tirto udah jam setengah empat. Itupun kaget kaena bus sudah masuk terminal, jadi nggak turun di pintu barat. Baru juga turun langsung ngeh kalo jam terjatuh di bus, bergegas lari mengejar bus yang untungnya masih ngetem di pintu timur. Alhamdulillah ketemu, bisa gaswat kalo sampe ilang.

Terminal Barat

Balik lagi ke pintu barat, nunggu beberapa saat bus dari Surabaya, ternyata sudah habis. Alhasil naiklah SAFARI lux eko AC yang sudah terparkir di jalur 4 sedari tadi dan berangkat pukul 04.00. Jam tujuh pagi mendarat di Sukun. Tak lama berselang Sumber Alam bumel melintas. Tau gitu naik Sulam aja tadi, batinku.

Fare
Sugeng Rahayu Kutoarjo-Solo : 60k free Cleo air mineral 550ml
Safari Lux Solo-Semarang: 40k

2020 Review

Summary

Sekilas balik tentang 2020 yang sangat aneh

This episode is sponsored by

· Anchor: The easiest way to make a podcast. https://anchor.fm/app

Tirtonadi nagih janji

Summary

Obrolan terminal tirtonadi

This episode is sponsored by

· Anchor: The easiest way to make a podcast. https://anchor.fm/app